Sebuah Cerita Tanpa Koma!

Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi, tanpa peduli siapa pelakunya dan apa yang dilakukannya. Waktu memandang semuanya sama. Jika tidak bisa menjadi yang terbaik hari ini, jangan harap akan menghasilkan yang terbaik hari esok. 24 jam seakan berlalu tanpa terasa bagi kami. Setiap detik waktu yang berjalan menjadi sebuah cerita tanpa koma. Puluhan ide dan cerita memberontak memenuhi otak menuntut untuk segera dituangkan dalam berita.

Tak ada batasan waktu bagi kami, tak ada koma dalam dunia kami. Dunia kami menuntut untuk selalu menghasilkan yang terbaik dan berkualitas. Meskipun sejenak melupakan masa indah hidup kami, semua itu demi mimpi kami untuk selalu menjadi yang terbaik. Kami bercerita tanpa koma, berlari mengejar realitas. Waktu dan pena setia menemani hidup kami. Karena dengan itu kami kuat.

Jika orang lain mati meninggalkan bangkai, kami tak akan mati. Kami menulis lembar demi lembar yang menjadi saksi dan kekuatan untuk tetap dikenang hingga kini. Menjadi saksi hidup kami dan mereka. Semuanya terekam indah dalam goresan pena. Kata-kata yang menjadi ekspresi indrawi, penekanan yang mewakili emosi, dan semua cerita yang menggambarkan kebahagiaan. Dengan harapan kami akan selalu bermanfaat bagi sesama dan tetap memberikan kontribusi positif bagi perkembangan media massa sekolah. (Red)

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Thanks Teman Kecilku

Pagi ini awan mendung.Aku memilih berangkat sekolah pagi-pagi.Tak disangka Gita dan Abel telah berada disekolah.
“Pagi Nana!’’sapa Gita dan Abel kompak
“Lho…kok kalian udah ada disini?Bukanya kalian berdua itu ratunya telat ya…!”tanyaku dengan sindiran
“Emn…kita sengaja bangun pagi biar bisa kenalan sama murid baru di Sekolah kita.”kata Abel
“Murid baru?Apa hubunganya sama kalian bangun pagi-pagi gini???”tanyaku lagi
“Katanya murid baru itu ganteng banget!Dan ntar kita bisa kenalan lebih awal sama dia.Iya nggak Git?”
“Iya…bener tu!”kata Gita mengiyakan
Aku hanya bisa tersenyum mendengar omongan Gita dan Abel.Karna bel masuk berbunyi,Aku mengajak Gita dan Abel untuk masuk kelas.
“Pagi anak-anak!Hari ini kita kedatangan murid baru.Silahkan kamu memperkenalkan diri.”kata Pak Guru.
“Nama saya Bayu!Saya pindahan dari Bandung…”kata murid baru itu memperkenalkan diri
“Hai Bayu…..!”sapa Gita genit
“(tersenyum),Hai juga!”jawab Bayu lirih
“Gita!!!Apa-apaan sih!”kataku sinis
“Sorry….abis dia ganteng banget sih!”kata Gita
“Hhmm…Emang menurut kamu dia itu nggak ganteng?”tanya Abel
“Emn…biasa aja!Namanya kayak temen kecil ku dulu ya…!Kalian masih inget kan?”tanyaku
“Emn…dah lupa Na…lagian dia juga nggak pernah ngasih kabar kan!”kata Abel
Bel pulang sekolah pun berbunyi.Di saat aku berjalan pulang,Aku merasa ada yang mengikutiku.
“Kayaknya ada seseorang yang mengikutiku.”pikirku dalam hati
Aku pun langsung membalikan badanku.
“Itu kan murid baru!”pikirku
“Hey…ngapain kamu di situ?”tanyaku penasaran
“Em…emn…kebetulan jalan arah pulang ku sama dengan kamu!Sorry deh kalau aku udah bikin kamu takut.”kata Bayu
“Oow….Okay,no problem!”kataku dengan senyum layu


Pagi ini aku bangun kesiangan.Aku berjalan keluar rumah dengan tergesa-gesa.Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.
“Hai…ayo bareng!”
Aku langsung menoleh ke belakang.
“Itu kan Bayu,kok dia ngajak aku berangkat bareng???”gumanku.
Tiba-tiba aku terkejut ketika Bayu menepuk bahuku.
“Hai…nglamun aja!Ayo naik udah siang!”ajak Bayu
“Tapi……..?”
“Udah nggak ada tapi-tapian!Ntar aja ngomongnya.”
Tanpa berpikir panjang aku dan Bayu langsung berangkat.Beberapa menit kemudian kita sampai di sekolah.
“Thanks ya tumpanganya!”kataku
“Ya sama-sama!Nanti jam istirahat aku tunggu kamu di kantin ya….?”
“Emangnya ada apa?”tanyaku penasaran
“Cuma pengen makan siang bareng!”
“Okay….Aku ke kelas duluan ya!”
“Ya……..”jawabnya sambil tersenyum
Sesampainya di sekolah aku langsung di serbu pertanyaan oleh Gita dan Abel.Ketika aku bilang kalau tadi aku berangkat bareng sama Bayu.
“Kok kamu bisa berangkat bareng sama Bayu?”
“Terus tadi Bayu ngomong apa aja?”
“Kamu nggak di apa-apain kan?”
“Stop….kalau tanya one by one donk!Intinya Bayu Cuma nolongin aku karena aku tadi kesiangan!”jelasku
Jam istirahat yang ku nanti ahirnya datang.Segera aku bergegas pergi ke kantin.
“Hai!!!”katanya sambil melambaikan tangan
Aku hanya membalasnya dengan senyum
“Dah lama nunggu ya?”kataku sambil duduk
“Enggak kok! Aku pesanin makanan dulu ya…!”tawar Bayu
“Okay!”
Tak lama kemudian Bayu datang dengan membawa makanan
“Ini kan makanan favorit aku!Kok kamu tau sih?
“Tau donk…!Ayo makan!Ngomong-ngomong kamu udah berhasil nulis novel belum?”
“Novel,dari mana kamu tau kalau aku suka nulis?Abel yang ngasih tau ya….?!”tanyaku penasaran
“Emn…semua itu akan terjawab ntar malem.”
“Maksudnya?”
“(tersenyum)”balas Bayu
Saat aku benar-benar penasaran,Bayu hanya cuek.Dia hanya tersenyum penuh teka-teki.
“It’s okay.Aku balik ke kelas dulu ya!”kataku
“Ya….”balasnya
Aku segera kembali ke kelas.Setiap aku melangkah satu hal yang terpikir di benak ku.
“Siapa sih sebenarnya Bayu itu?Kok dia tau semuanya tentang aku???”pikirku dalam hati
Tiba-tiba Gita dan Abel menghentikan langkahku.
“Chieeh….yang abis makan siang bareng!”sindir Abel
“Emang ngomongin apa aja sih Na?Kok abis ketemuan muka kamu kusut.”tanya Gita
“Cuma ngomong-ngomong biasa!Kalian tau nggak aku lagi mikirin apa?”kataku
“Emn……..pasti mikirin Bayu!”jawab Gita
“Iya sih….!Bayu tu tau banget semua hal tentang aku,aneh kan!”jelasku
“Kebetulan kali…!”potong Abel
“Nggak mungkin!Dia jadi ngingetin aku sama Bayu,teman kecilku.”jawabku dengan muka memandang lurus k depan
“Tapi,,,sampai saat ini Bayu temen kecil kamu itu belum ngasih kabar apa-apa kan!” ujar Gita
“Mungkin itu cuma perasaan kamu aja!”kata Gita berusaha menghilangkan perasaanku.
Bel pulang berbunyi.Aku memilih pulang lebih dulu.
“Bel,Git….aku pulang duluan ya…!”kataku berpamitn
“Ya….”jawab mereka kompak


Hari semakin larut.Malampun datang.Tanpa memikirkan kejadian tadi siang,Aku langsung tertidur pulas.Tiba-tiba aku di kagetkan oleh teriakan dan iringan lagu.
“Surprise….Happy Birthday!”ucap Abel
“Nana bangun!Ayo bangun….!Tiup lilin dulu yuk….”ajak Gita
“Ini ada apa sih?ngantuk tau!!!”keluhku
“Bangun dulu donk Na….!”rayu Gita
“Ada yang mau ketemu nih!”kata Abel
Setelah aku terbangun,Aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka.Gita memanggilku untuk tiup lilin.
“Nana…tiup lilin dulu!”ajak Gita
“Ayo Na….make quist dulu!”kata Abel
“Huh…!”nafasku berusaha mematikan lilin
Tiba-tiba ada seseorang di depanku.
“Happy Birthday Nana!”
“Eh Bayu…makasih ya!”
“You’re welcome!”kata Bayu
“Na,tau nggak sebenarnya Bayu itu siapa?”kata Abel
“Dia Bayu murid baru di sekolah kita kan?”jawabku
“Salah Na….Dia itu Bayu…………”kata Gita terputus bermaksud membuatku penasaran
“Siapa?”tanyaku penasaran
“Temen kecil kamu!”terusnya
Aku terdiam sesaat dan berpikir.Dan beberapa saat kemudian………
“Bayu…aku kangen banget sama kamu!Jadi slama ini kamu boongin aku donk!Tapi it’s okay.Ini akan jadi ultah terindah buat aku.”kataku kegirangan
“Maaf deh kalau aku dah boongin kamu!”kata Bayu dengan senyuman manisnya
Sekarang aku tau kalau temen kecil adalah temen seumur hidup.


NALUNA LUNA @

Catatan:
@ Cerpen ini pernah di lombakan ,dalam tulisan ulang ini sadah banyak dirubah.
READ MORE - Thanks Teman Kecilku

Konde Tempo Doeloe

Dulu, ketika masyarakat negeri ini masih bisa menghargai dan meneladani sikap para pahlawannya, selalu memperingati hari-hari yang berkaitan dengan para pelaku sejarah. Diantaranya ketika memperingati hari Kartini. Semua siswa dan ibu-ibu guru melaksanakan upacara dengan mengenakan busana nasional kebaya seperti layaknya pahlawan wanita kita, tak lupa lagu “ Ibu Kita Kartini “ dikumandangkan setiap tanggal 21 April itu.
Ada ibu-ibu guru yang sudah janjian akan berangkat bersama naik mobil sedan dengan disopiri salah satu ibu yang sekaligus pemilik mobil. Mereka bertiga kebetulan tempat tinggalnya searah. Dari sekolah tempat mengajarnya, kira-kira 20 atau 30 an km jarak dari rumah. Dengan jarak yang cukup jauh dan dengan pakaian kebaya serta berkonde yang lumayan besar ( cukup membuat pusing ) tidak mungkin naik sepeda motor bagaimana pakai helmnya? Oleh sebab itu mereka sepakat menumpang mobil teman.
Pukul 04.00 wib persiapan rias dll, pukul 06.00 wib siap berangkat dengan pertimbangan jika kesiangan, nanti upacara dilapangan terlalu panas. Mobil Honda accord th 70an mulai melaju keluar dari kampung, kemudian menyusuri jalan makadam, 10 menit kemudian sampai di jalan persawahan, kanan kiri jalan ditumbuhi pohon-pohon saman yang sudah besar-besar. Angin semilir kadang-kadang “ wess! “ bertiup kencang. Tiba-tiba mobil bersuara “ glebeg-glebeg-glebeg “ akhirnya mesin mati. “ Waduh! Bagaimana Bu? Jauh dari pemukiman penduduk, tak ada yang dimintai mendorong? “ Kata bu Ida pemilik mobil. Bu Sinta dan Bu Muna yang duduk dibelakang merasa sungkan akhirnya turun dan mendorong mobil. “ Waahh…. Sudah cantik-cantik begini dorong mobil “ ucap Bu Muna. “ Tadi mimpi apa ya semalam, kok sial? “ Bu Sinta menimpali. Mereka berdua menyingsingkan lengan dan mengangkat jaritnya hingga lutut. Dengan sandal berhak tinggi berdua mulai mendorong mobil.
“ Satu, dua, tiga… “ mobil mulai berjalan, namun berkali-kali di starter, mesin belum bunyi juga. “ satu, dua, tiga…” Baru Mesin mulai berbunyi, dan Bu Ida menancapkan pegasnya dengan keras berkali-kali. “ Alhamdulillah… “ Ucap Bu Sinta dan Bu Muna hampir bersamaan. Mereka hendak membetulkan pakaian yang tadi disingsingkan, mulai merapikan lengan dan jarit yang disingkap, namun tiba-tiba “ Wess! “ Angin kencang bertiup dan “ Ah!! “ Konde Bu Muna sempat terangkat karena Bu Muna sedang merunduk membetulakan jaritnya “ Aduh, Bu…. Tolong kondeku mau jatuh….. “ Bu Muna merengek ke Bu Sinta. “ Dibetulkan dimobil saja kita sudah ditunggu Bu Ida “ Ucap Bu Sinta sambil menggandeng tangan Bu Muna.
Sambil membetulkan tata busana dan konde yang semrawut, ibu-ibu bertiga itu bergurau saling menimpali. “ Maaf ya bu, Panjenengan berdua sampai ‘gobyos’ gara-gara mobil saya yang butut ini “ kata Bu Ida. “Gak apa-apa bu… namanya juga sial. “ Kata Bu Sinta dan Bu Muna. Tiba-tiba mobil agak oleng dan sulit dikendalikan. “ lhoo…lhoo… ada apa ini? “ Kata Bu Sinta dan Bu Muna cemas. “ Wah bu… maaf ya… bannya kempes… “ Kata Bu Ida. “ Gak apa-apa bu… kami juga minta maaf… karena dalam hal ini kami tidak bisa membantu… “ Jawab Bu Sinta dan Bu Muna.
Mereka bertiga turun. Bu Ida menyinsingkan lengan dan mengangkat jarit setinggi lutut, persis seperti yang dilakukan Bu Sinta dan Bu Muna tadi. Tapi kini Bu Ida mengambil dongkrak hendak mengganti ban mobil yang kempes. “ Wah… cantik-cantik… jadi montir!! “.
“ Bu, jangan keliru bannya dengan konde ibu ya…?” he…he…he…

(Rds.)
READ MORE - Konde Tempo Doeloe

Pengorbanan Sang Sahabat

Pagi itu sang surya masih menyambut alam dengan ramah. Burung-burung gereja pun berterbangan di sela-sela gumpalan awan dengan langit yang berwarnakan biru cerah. Nampak Devina, remaja SMA yang masih terpaku membaca buku novelnya di atas rakitan bambu dengan empat buah kaki penyangga di bawah pohon mangga yang berdiri kokoh di dekat kantin sekolahnya. Seringkali remaja kutu buku itu menghabiskan waktu istirahatnya disana, dan baru menutup novel kesayangannya itu saat bel sekolah berdentang. Devina, remaja yang bertubuh tinggi langsing, berkulit putih, dan berparas ayu ini memiliki tabiat pendiam, dan merupakan salah satu anak yang berprestasi di kelasnya. Selama di sekolahnya ia betah sekali duduk menyendiri di dekat kantin sekolahnya.
Terlebih bila sudah membuka-membuka koleksi novelnya. Kebiasan seperti itu ia lakukan tak lama setelah ayahnya kalah di sidang pengadilan dalam kasus korupsi. Dulunya ia adalah anak dari seorang pengusaha kaya. Ia adalah anak yang bergaya hidup mewah dan selalu memamerkan kekayaannya di depan teman-temannya. Bayangan peristiwa yang terjadi setahun lalu itu sering kali menyeruak di hadapannya, peristiwa yang telah mencabik-cabik mukanya dengan sembilu di depan teman-temannya. Kini, Devina merasa hidupnya tak ada artinya lagi, dia bukan lagi anak pengusaha yang seenaknya bisa berfoya-foya. Dia harus bisa menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh miskin. Begitulah kira-kira pedihnya Devina saat ini, dan kebanyakan temannya pun tak mau menemaninya.
Tiba-tiba, Devina dikejutkan oleh Airin yang membuyarkan bayangan kegetirannya,
“Vin, bel sekolah udah bunyi, tuh… Buruan masuk kelas, nanti kamu telat lo...”.
Devina pun langsung menuju ke kelas tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Airin adalah teman sekelas Devina. Dia juga anak yang berprestasi seperti Devina. Tetapi yang membedakannya dengan Devina, Airin adalah anak yang pandai bergaul dan ia juga tidak sombong. Tabiat Airin ini membuat banyak anak kagum dan suka berteman dengannya. Ayah Airin adalah seorang pengacara. Airin adalah satu-satunya anak di kelas Devina yang selalu memperhatikan Devina. Tetapi Devina selalu menghindar darinya, tidak jarang ia merasa iri dengan sikap ramah Airin, dan bahkan Devina sangat membencinya.
Peristiwa yang terjadi setahun lalu yang menimpa ayah Devina yang membuat Devina sangat membenci Airin. Pada saat itu, ayah Airin bekerja sebagai pengacara dari orang yang telah menuduh ayah Devina melakukan tindak korupsi. Dan ayah Devina pun kalah dalam persidangan dan dijebloskan ke penjara. Tak lama setelah itu ayahnya meninggal karena serangan jantung.
Suatu hari, saat matahari menyengat tubuh sangat panas, ketika jam pelajaran berlangsung tampak seorang guru mengetuk pintu kelas Devina dan Airin yang tertutup rapat.
“ Tok…tok…tok…”
“ Ya, silahkan masuk! “. Jawab Bapak Guru yang saat itu sedang mengajar di dalam kelas.
“ Maaf Pak, mengganggu. Saya hanya ingin memanggil Devina “. Kata si Ibu Guru BK itu.
Sinar mata Devina pun langsung menunjukkan rasa ketakutan dengan wajah terperangah. Timbul pertanyaan memberondong yang bergejolak dalam dirinya.
“ Ada apa ya ini? Kenapa aku dipanggil ke ruang BK? Apa aku telah membuat masalah? “
Devina pun langsung bergegas menuju ke ruangan itu.
Dengan menarik nafas panjang ia segera memberanikan diri bertanya kepada guru BK itu “ Ada apa, Bu? “
“ Sebelumnya saya minta maaf, Vin. Kamu sudah menunggak SPP selama tiga bulan. Jika kamu tak segera melunasinya, maka pihak sekolah terpaksa akan mengeluarkan kamu “. Jawab si Ibu Guru itu.
Dengan mata terbelalak lebar, Devina bingung harus menjawab apa, seakan mulutnya tak bisa bergerak.
“ Tolong jangan keluarkan saya, Bu. Saya berjanji akan melunasi semua tagihan SPP saya. Tolong beri saya kesempatan…! “ Ucap Devina memohon-mohon kepada guru itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Guru itu pun tak dapat menghindari rasa kasihan terhadap Devina.
“ Baiklah Devina… Saya akan beri kesempatan kamu dua minggu lagi. Jika kamu tak sanggup melunasinya, maka terpaksa pihak sekolah akan mengeluarkan kamu”.
Mendengar ucapan yang keluar dari guru BK itu, hati Devina merasa lega.
“ Terima kasih banyak, Bu. Saya berjanji akan melunasinya. Saya berjanji “.
Kemudian ia segera keluar dari ruangan itu, dan bingung memikirkan tunggakan SPPnya. Tiba-tiba Airin menemui Devina, dan ia bertanya,
“ Ada apa, Vin ? Kenapa wajah kamu tampak murung ? ” Tanya Airin.
Dengan wajah geram dan penuh kebencian, Devina menjawab “ Udahlah, nggak usah sok baik… Apa kamu tak cukup telah menghancurkan hidupku ? ”
“ Kenapa kamu selalu menyalahkanku atas peristiwa itu ? Bukan aku yang melakukannya… Tapi ayahku, karena pekerjaan ayahku sebagai pengacara. Aku juga tidak mau membuatmu seperti ini, aku hanya ingin berteman denganmu… “ Dengan wajah melas Airin membela diri.
“ Udahlah… Kamu nggak usah ganggu aku lagi. Anak sama Bapak sama aja… “ Jawab Devina dengan muka judesnya.
Mendengar jawaban Devina seperti itu, hati Airin bagai tersambar petir, jantungnya bagai tertusuk sembilu. Dengan mata yang berlinangan air mata, Airin pun meminta maaf pada Devina.
Devina tak sedikitpun mendengarkan ucapan Airin dan langsung meninggalkannya.
Lalu Devina berjalan menuju keluar pintu gerbang sekolah dan pulang ke rumahnya. Di sepanjang perjalanannya pulang, pandangannya kosong. Ia terus memikirkan apa yang harus dikatakannya nanti pada ibunya. Dia tidak mungkin tega mengatakan pada ibunya yang sedang sakit-sakitan kalau ia menunggak SPP selama tiga bulan.
Sesampainya di rumahnya yang sederhana, ia membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh, sambil mengucap salam,
“ Assalamualaikum, Ibu… “
“ Uhuk…Uhuk…Uhuk… Walaikum salam… “ Jawab Ibu Devina yang sedang menahan sakit yang dideritanya.
“ Ada apa, Dev? Wajah kamu kok Nampak pucat? “ Tanya Ibu Devina.
“ Tak apa-apa, Bu… Aku hanya sedikit tidak enak badan. “ Jawab Devina yang sedang berusaha menyembunyikan masalahnya.
Devina langsung masuk ke kamarnya dan terus memikirkan apa yang dialaminya. Lalu ibunya curiga, dan masuk ke kamar Devina untuk menanyainya,
“ Dev, kamu pasti ada masalah di sekolah ya ? Apa ini soal SPP lagi? “
Dengan wajah terpaksa Devina menjawab pertanyaan ibunya karena tak bisa menyembunyikannya lagi,
“ Ya, Bu… Maaf, Devina tak cerita ke Ibu. Aku takut Ibu terlalu cemas memikirkannya, apalagi sekarang Ibu sedang sakit “.
“ Dev, apapun masalah kamu, Ibu janji akan bantu. Ibu akan melunasi semua SPP kamu. Yang penting kamu tetap bisa sekolah “. Jawab si Ibu.
“ Maaf, Bu… Aku selalu merepotkan Ibu. Aku janji akan mencari jalan keluarnya “ Jawab si Devina dengan wajah menyesal.
Keesokan harinya, Devina berangkat ke sekolah dan menjumpai formulir tentang beasiswa bersekolah ke luar negeri di papan pengumuman sekolah. Siapa saja bisa memperoleh beasiswa tersebut dengan mengikuti seleksi.
Dengan penuh keyakinan, hatinya menggumam, “ Aku pasti bisa mendapatkan beasiswa itu… !! “
Tepat di samping ia berdiri, nampak Airin yang juga sedang membaca papan pengumuman itu.
Dengan wajah sinis Devina berkata pada Airin, “ Kamu pasti tidak akan bisa mendapatkan beasiswa itu, pasti aku yang akan mendapatkannya“.
Dengan hatinya yang sabar Airin menjawab sambil tersenyum, “ Mudah-mudahan kita berdua bisa mendapatkan beasiswa itu “
Seperti biasa, Devina tak menggubris perkataan Airin sedikit pun dan langsung meninggalkannya dengan hati yang berbunga-bunga setelah melihat pengumuman itu.
Akhirnya, Devina dan Airin mengikuti seleksi beasiswa itu.
Seleksi penerimaan beasiswa itupun dimulai. Dan suatu kebetulan Devina dan Airin mengikuti seleksi dalam satu ruangan kelas dengan guru penjaga yang nampak bermuka galak. Sinar mata Devina mamandang jahat pada Airin, berharap ia tidak lulus dalam seleksi. Sedangkan Airin yang memang gadis lugu hanya merespon dengan senyuman ramahnya.
Nampak dua remaja yang memiliki otak cemerlang itu sangat serius mengerjakan soal-soal yang telah disediakan. Tiba-tiba, konsentrasi para peserta terpecahkan oleh suara si guru penjaga kelas,
“ Waktu tinggal lima menit lagi… “
Semua peserta pun panik, dan terburu-buru mengerjakan soal yang lumayan sulit itu. Akhirnya, bel pun berdentang kencang, tanda bahwa waktu mengerjakan soal telah selesai.
Semua peserta pun mengumpulkan lembar jawab mereka ke meja guru. Dengan wajah yakin, Devina keluar ruangan sambil mengejek Airin,
“ Gimana soal-soalnya tadi ? Kamu nggak bisa ngerjain ‘kan ? “
Airin menjawab dengan perasaan santai,
“ Nggak kok… Lumayan mudah “
Setelah itu Devina melengos meninggalkan Airin.
Dengan hati yang berdebar Devina pun menunggu hasil pengumuman beasiswa itu. Ia sangat berharap ia dapt menerima beasiswa itu agar tidak menyusahkan ibunya yang sedang sakit-sakitan.
Hari yang ditunggu-tunggu senua siswa pun tiba, terutama Devina. Pengumuman hasil seleksi perolehan beasiswa itu telah ditempel di papan pengumuman. Para siswa bergerombol melihat hasil pengumuman itu
Saat itu langit sedang berselimut awan hitam dan gelap, Nampak Devina yang menerobos gerombolan para siswa yang sedang melihat papan pengumuman.
Jantungnya berdebar bagaikan genderang. Ia pun memberanikan diri untuk melihat papan pengumuman itu. Ia menunjukkan jarinya pada papan pengumuman dan melihat dengan mata terbelalak lebar baris nama demi baris nama, ia baca dari atas ke bawah berulang-ulang kali sampai tiga kali. Ternyata, dalam papan pengumuman itu, tak ada yang bertuliskan Devina Erlianti.
Matanya pun berkaca-kaca dalam cuaca hujan. Setelah beberapa lama, tak kuasa ia menahan air matanya. Air matanya pun menetes dan membasahi pipinya. Hatinya menjerit,
“ Tuhan, kenapa Engkau selalu merebut kebahagiaanku ? Kenapa Engkau tidak pernah mengabulkan apa yang aku ingin ? “
Tiba-tiba matanya menuju arah tepat sebelah kanan ia berdiri. Ia melihat Airin tersenyum bahagia. Sesuatu yang tak pernah disangka-sangka Devina, ternyata Airin lulus dalam seleksi perolehan beasiswa itu. Airin pun menggumam mengucap syukur,
“ Terima kasih Tuhan… Akhirnya aku bisa menggapai cita-citaku “.
Tak lama kemudian, ia memandang wajah Devina yang tampak sangat sedih dan kecewa,
“ Dev, kamu kenapa ? “
Dengan muka kecewa Devina menjawab,
“ Puas kamu…? Melihat aku terpuruk dalam kekecewaan ini… Udah puas ‘kan kamu melihat penderitaanku ? “
Airin hanya melihatnya dengan wajah terperangah dan tak mampu mengatakan apa-apa. Ia tak menyangka muris sepintar dia tidak lolos dalam seleksi.
Devina pun membentak Airin, “ Hey… Kenapa kamu diam saja ? Kamu bisa tertawa sekarang… “
Airin berusaha menenangkan Devina “ Dev, aku nggak bermaksud…. “
Dan Devina lagi-lagi membentaknya “ Diamlah !!! “ Devina memotong pembicaraan Airin dan menamparnya di depan orang banyak.
Dengan suara kalem Airin menjawab “ Kenapa kamu tampar aku, Dev…? Aku nggak salah. Kalau kamu memang ingin beasiswa itu. Ambilah punyaku… Kalau itu memang bisa membuatmu senang..! “
Dan lagi-lagi Airin berbicara dengan nada sombongnya, “ Tidak… Terima kasih… Aku tidak akan menerima bantuan sepeserpun dari orang seperti kamu. “.
Devina pun berlari di tengah hujan lebat menuju ke rumahnya. Hatinya bagai tercabik-cabik. Rasa kecewa merasuk ke dalam tubuhnya.
Keesokan harinya pada malam yang dingin menggigil. Gemercik air hujan terdengar berjatuhan membentuk simfoni alam yang menggelisahkan, Airin memberanikan diri pergi ke rumah Devina.
Tanpa ragu, Airin menaiki mikrolet menuju ke rumah Kinasih. Mikrolet terus melaju memasuki jalan-jalan kecil. Sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba Airin menyentilkan telunjuknya ke langit-langit mobil. Sopir mikrolet menurunkannya tepat di mulut gang kecil.
Tepat di sebelah gang kecil itu, Airin bertemu dengan Devina yang sedang berbelanja di sebuah warung. Airin berhenti sebentar untuk manarik nafas panjang. Setelah itu ia segera memberanikan diri untuk mamanggil Airin,
“ Devina… “
Tanpa berkata sepatah kata pun, Devina menghampiri Airin.
“ Dev, Sbelumnya aku ingin minta maaf. Aku hanya ingin memberikan ini “. Ia menunjukkan sebuah amplop coklat yang berisikan kertas.
Dahi Devina pun berkerut, mukanya semakin nampak kesal, marah, jengkel bercampur aduk menjadi satu.
Tiba-tiba Devina menarik rambut Airin yang terurai panjang. Beribu kata kasar diungkapkan kepada Devina.
“ Kamu memang keparat… Apa kamu belum puas menghancurkan hidupku dan semua harapanku… “
Pertengkaran hebat pun terjadi di tempat itu. Devina pun mendorong Airin sampai ke tengah jalan raya. Devina tak menghiraukan kalau ada mobil yang melaju kencang.
“ Aaaaaaaa… “
Airin berteriak kencang pada saat itu, dan akhirnya ia ditabrak oleh sebuah mobil berwatna biru rua.
Devina pun panik, dan dia memanggil-manggil nama Airin, “ Airin… “
Orang-orang di sekitar lokasi itu pun langsung menepikan Airin ke pinggir jalan raya.
“ Airin, maafkan aku… Aku tak sengaja… “ Kata Devina menyesal.
Tiba-tiba Devina dikejutkan dengan sebuah amplop yang berisi surat yang akan diberikan kepadanya tadi. Dengan cepat ia segera membuka amplop itu.
Hatinya pun terkejut, dan ia bertanya kepada Airin, “ Rin, apa ini? Kenapa di surat penerimaan beasiswa ini tertulis namaku ? “
Sambil menahan rasa sakitnya Airin menjawab “ Kemarin aku pergi ke kantor yang menyelenggarakan penerimaan beasiswa itu. Dan aku menyerahkan beasiswa yang aku terima kepadamu. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan agar kamu biasa memaafkanku.”
“ Rin, maafkan aku.. Selama ini aku sudah berbuat jahat kepadamu. Padahal kamu sudah sangat baik “. Kata Devina menyesal.
Tak lama setelah itu, Airin langsung dibawa ke rumah sakit.
Pagi itu saat Airin di Rumah Sakit, ia berkata kepada Devina,
“ Dev, sekarang kamu bisa menggapai cita-citamu meneruskan sekolahmu ke luar negeri “.
“ Tidak, Rin… Terima kasih. Kamu yang berhak mendapatkan beasiswa itu. Kamu yang lolos seleksi “ Kata Devina.
“ Tapi bagaimana kamu meneruskan sekolahmu ? “ Tanya Airin keheranan.
“ Aku akan mencari dana sendiri. Aku akan berusaha “ Jawab Devina dengan semangat.
Keesokan harinya, Devina mengembalikan beasiswa itu kepada kantor yang menyelenggarakan penerimaan beasiswa itu.
Devina tetap bisa bersekolah walaupun ia tak menerima beasiswa itu. Ia dibiayai oleh ayah Airin. Tidak ada yang menerima beasiswa itu baik Devina maupun Airin. Mereka tidak mau lagi memikirkan hal itu. Setelah semua peristiwa yang Devina alami, ia berubah. Ia menjadi tidak pendiam dan tidak sombong. Ia pun akrab dengan teman-teman sekelasnya. Devina dan Airin pun menjalin persahabatan yang tidak akan pernah sirna.

(by: Ilham Saputra)
READ MORE - Pengorbanan Sang Sahabat

YANG MENYENANGKAN BELUM TENTU BENAR

Mereka tertawa bersama,persahabatan yang terjalin di antara mereka membuat suasana berbeda,hari-hari yang biasanya sepi tak lagi di rasakan.Selalu tertawa dan bersenang-senang,mungkin itulah yang ada di benak mereka.Aldi,Beno,Rio,dan Ferdy mereka siswa dari SMA swasta di Kediri mereka masih duduk di bangku kelas 10.Sudah lama Aldi bersahabat dengan Rio karena memang dari dulunya mereka berteman sewaktu masih duduk di bangku SMP.Tanpa di duga mereka di pertemukan kembali di sekolah yang sama walaupun berbeda kelas,sedangkan pertemuannya dengan Beno berawalan pada Masa Orientasi Siswa ternyata berawal dari pertemuan itu mereka bertiga selalu bersama,kompak dalam hal apapun,bahkan rumah mereka juga berdekatan,Hobi yang mereka punyapun tak jauh berbeda,mereka semua pandai dalam bernyanyi dan memainkan gitar.
Di sekolah banyak anak-anak yang takut dengan mereka,entah kenapa semenjak mereka berhasil mengalahkan kakak kelas,dan membuat anak-anak lainnya takut mereka berubah menjadi seseorang yang ingin menang sendiri,angkuh,dan keras kepala.
“Enak sekali ya jadi orang yang di takuti.”Kata Beno
“Yaiyalah gak da yang berani sama kita,mau apa ja tinggal bilang.”Sahut Aldi
“Gimana kalau nanti malam kita pesta?”
“Boleh juga tuh,,,tapi dimana ya…?”
“Di rumah Rio aja,kan kalau malam sepi.”
“Iya deh,ntar kita patungan ya,,
“OK…!!!
Seperti kita lihat saat ini banyak remaja yang terjerumus pada hal-hal negative,begitu juga mereka,masa pubertas tanpa pengawasan dari orang tua akan berdampak negative pada perkembangan anak.Malam itu mereka menggelar sebuah pesta minuman keras,di rumah Rio yang setiap harinya selalu sepi di gunakan mereka untuk melepas semua resah dengan hal-hal yang tidak selayaknya di lakukan,minum minuman keras,menontonn video porno dan membawa keluar masuk pacar-pacar mereka.Sampai suatu hari mereka mempunyai sahabat baru yaitu Ferdi.Semenjak Ferdi bersahabat dengan mereka ferdi berubah 180 derajat,bagai kilat menyambar bumi,begitu cepat Ferdi berubah,tawuran,minum-minum kebiasaan mereka sekarang harus menjadi kebiasaan Ferdi.
Semua berawal dari beberapa bulan yang lalu,Ferdi adalah teman satu kelas Aldi dan Beno,dia adalah murid yang pendiam,dia tidak mempunyai banyak teman.Begitu banyak masalah yang menimpanya di dalam ataupun di luar sekolah.Hal itulah yang membuat dia frustasi,karena setiap ada masalah dia harus menyelesaikannya sendiri tanpa ada yang membantunya.Dia merasa iri melihat Aldi dan teman-temannya,begitu banyak teman,dan di takuti anak-anak lain.Bagai si pungguk merindukan bulan,sebuah keinginan yang mungkin mustahil dia capai.
“Andai saja aku bisa berteman dengan mereka,pasti tidak begitu berat bebanku.
Tapi sayang aku bukan siapa-siapa tak mungkin aku bisa seperti mereka.Jangankan berteman,ngobrol sama aku saja belum tentu mau.
Hhhh….emang udah nasibku kali ya…..!!”gak pernah bisa punya teman banyak.
Suatu ketika tiba giliran kelas Ferdi untuk mengikuti ekstra kulikuler berenang di pemandian Tirtoyoso,di situlah awal persahabatan mereka,awalnya Ferdi hanya melihat Aldi dan teman-temannya dari kejauhan.
“Ingin rasanya bergabung dengan mereka,bersenang-senang,tertawa sepuasnya,tanpa beban pikiran.
(Sebuah pemikiran yang sesat)dia tidak tau yang di lakukan Aldi dan teman-temannya hanyalah suatu kebodohan,kepuasan sesaat yang akan membawa penyesalan begitu dalam seumur hidupnya.Dengan keadaan terpaksa dan super nekat,Ferdi memberanikan dirinya menuju ke tempat Aldi dan teman-temannya.
“Ngapain kamu kesini?”Tanya Aldi.
“Aku boleh gabung sama kalian gak?”jawab Ferdi.
“Haa…Haa…2009x
“Emang bisa apa kamu?”Tanya Beno.
“Badan cungkring kayak gitu mana pantes sama kita-kita?”sahut Rio
“Aku akan lakuin apa ja buat ngebuktiin kalau aku serius ingin berteman dengan kalian.
“OK…!!!Kamu minum ini sampai habiz baru kita-kita percaya kalau kamu serius.
( Sambil menyodorkan 2 botol minuman keras pada Ferdi)
Karena yang ada di pikirannya Cuma ingin punya teman banyak,Ferdi pun tak menolak tawaran Aldi.Dia langsung meminum 2 botol miras tadi,walaupun sebelumnya dia belum pernah merasakannya.Pusing dan batuk-batuk itulah yang di rasakannya,tapi rasa itu seakan hilang tak terasa tertutup oleh rasa bahagia karena dia berhasil di terima menjadi teman Aldi.Wajahnya terlihat begitu bersinar penuh kebahagiaan,Aldi juga bilang kalau dia lagi ada masalah bisa bilang Aldi dan kawan-kawan mereka akan siap untuk membantu.Bertambah kebahagiaan Ferdi,Loncat,tertawa,itulah yang di lakukannya kala itu.Namun tak di sadari keputusannya untuk bergabung dengan Aldi dan mempunyai banyak teman adalah awal dari kehancuran.Semenjak Ferdi berteman dengan Aldi dan kawan-kawan dia menjadi anak yang liar,keras kepala sama seperti Aldi,Beno,dan Rio.
Sombong,egois,Hobi tawuran,mungkin itulah penilaian orang terhadap mereka,tapi persahabatan di antara mereka sangat erat,selalu berbagi satu sama lain.Bersama di setiap suka dan duga,di sisi lain kebersamaan dan kekompakan itulah yang membuat mereka kehilangan kesadaran,bagi mereka sekolah ada di nomer 2,sebenarnya dia adalah anak-anak orang kaya,tetapi orang tua mereka terlalu sibuk dengan pekerjaanya,mareka adalah salah satu contoh anak-anak yang kurang di perhatikan,semua itu membuat mereka selalu mencari perhatian di luar sekolah,akibatnya tawuran,minum-minum sudah menjadi kebiasaan mereka.
2 minggu kemudian di rumh Rio mereka semua berkumpul ingin minum-minum tapi tidak ada uang.
“Al mana uangmu?”Tanya Rio
“Peh bos hari ni aku lagi bokek.”
“Aduuuhhh,,,kalau kalian gimana?”Tanya Rio lagi(menunjuk Ferdi dan Beno)
“Gak ada juga”Jawab mereka berdua
“Kalau gitu kita ngamen aja,tapi jangan di daerah sini.”Sahut Aldi
“Boleh juga tuh”
Saat itu juga mereka berangkat mengamen di daerah jauh dari rumah mereka,awalnya mereka malu,tapi rasa malu itu seakan hilang karena keinginan mereka untuk minum-minum harus terlaksana.Bagaikan muka tembok,tak ada lagi rasa malu di pikiran mereka,yang ada hanyalah senang-senang,mereka tak memikirkan sebuah dosa.Hati mereka sudah di bekukan dengan kesesatan,bahkan mereka sudah tak lagi ingat pada yang maha kuasa.Sudah 2 jam mereka pergi mengamen,sudah cukup banyak uang yang mereka peroleh dan mereka memutuskan untuk kembali kerumah Rio.Sampai di rumah Rio Aldi langsung membeli miras,rasanya seperti di surga,mungkin itulah yang mereka rasakan,sambil tidur-tidur,dan main gitar,membuat suasana semakin menyenangkan.
Persahabatan itu sudah terjalin begitu lama,banyak juga kesalahan-kesalahan yang sudah mereka perbuat.Bahkan mereka sering sekali membolos sekolah tanpa izin,bagi mereka sekolah itu membosankan,mereka sudah mempunyai orang tua yang kaya dan memiliki pekerjaan yang bisa mereka andalkan di masa depan.(Sebuah pemikiran yang bodoh)tanpa sekolah dan mempunyai keahlian tentu mereka tidak akan bisa bertahan pada pekerjaan itu.Karena sudah sering mereka tidak masuk sekolah tanpa izin,terpaksa orang tua mereka semua di datangkan untuk di mintai keterangan.Ternyata menurut penjelasan dari orang tuanya,mereka semua tidak pernah sakit atau izin ke luar kota,jadi wali kelas dan kepala sekolah menyimpulkan bahwa mereka semua bolos.Sejak saat itu mereka terus di peringatkan untuk tidak membolos lagi dan harus konsentrasi pada sekolah,karena apabila mereka tetap sering bolos maka akan di pindahkan ke sekolah lain.Hal itu rupanya tidak membuat mereka semua kapok,sama sekali tidak menghiraukan peringatan itu,perbuatan mereka semakin parah,mempunyai banyak teman di kalangan anak pank membuat mereka semakin PD,walaupun mereka sekarang tidak lagi membolos sekolah.
Suatu hari mereka mempunyai masalah dengan Hendi,dia adalah salah satu teman sekolah Aldi yang tergolong nakal dan di takuti murid lain.Mereka terlibat salah paham yang berujung pada tawuran antara kubu Aldi CS dan Hendy CS,tawuran berlangsung sangat seru di tempat parkir motor,murid-murid lain hanya bisa diam dan melihat,tidak ada yang berani melerainya.Beno memukul Dimas salah satu teman Hendy dengan helm hingga kepalanya terluka.Dimas yang tidak trima berusaha membalas Beno,namun apa daya sebelum Dimas berhasil membalasnya,ada guru yang melihat kejadian itu.Mereka semua langsung berhaenti berkelahi,bingung dan takut,mungkin itulah yang mereka rasakan.Guru itu membawa mereka semua menghadap kepala sekolah,karena guru itu sudah merasa tidak sanggup mengurusi kelakuan mereka yang tidak pernah berubah walau sudah di beri peringatan keras.Kepala sekolah sngat marah,bahkan beliau berkata akan memindahkan mereka semua ke sekolah lain,agar mereka mau berubah.Saat itu juga untuk pertama kali mereka semua menangis,memohon agar tidak di keluarkan dari sekolah karena mereka takut,orang tua mereka pasti akan marah besar,dan sangat kecewa terhadap mereka.
“Maafkan kami semua pak,kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”Kata Ferdi.
“Iya pak,maafkan kami semua.”Sahut mereka semua
“Tidak.Kalian sudah sering saya ingatkan,tapi tetap saja kalian sia- siakan.”Jawab kepala sekolah.
“Tolong beri kami 1 kesempatan lagi Pak,Pasti kami bisa berubah.
“Tidak.Saya harus tetap mendatangkan orang tua kalian dan mengeluarkan kalian semua dari sekolah ini.”
Walau mereka menangis dan memohon seperti apapun tidak akan merubah keputusan kepala sekolah.Keesokan harinya kepala sekolah mendatangkan orang tua mereka,beliau berbicara dan menjelaskan pada orang tua mengenai kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat anak-anak mereka.Perbincangan berlangsung cukup lama di ruang kepala sekolah,setelah beberapa jam keputusanpun di ambil,kepala sekolah tidak akan mengeluarkan mereka dari sekolah dengan catatan mereka semua tidak boleh melakukan kebodohan-kebodohan lainnya.Saat itu juga mereka di panggil dan di beri tahu syarat-syarat apabila mereka masih mau bersekolah di sini.Mereka semua merasa lega dan berjanji pada kepala sekolah dan orang tua mereka untuk tidak mengulangi hal itu.
Semoga saja pelajaran itu bisa membuat mereka semua sadar betapa pentingnya sekolah,tidak lagi berbuat hal-hal negative,dan persahabatan mereka tetap utuh,kompak tanpa adanya kebodohan, kepuasan,dan kesenangan sesaat.

(by: Megawati)
READ MORE - YANG MENYENANGKAN BELUM TENTU BENAR

Senja Merona

Kasih sayang adalah hal yang paling indah di dunia ini,Hidup bersama dan saling mengerti,tak ada lagi yang di inginkan kecuali ketulusan hati.
Aku masih ingat kata-kata itu,hadiah terakhir dari ayah untukku.Di makam ini kasih terbesarku beristirahat.Satu tahun berlalu,kasih tertinggiku meninggalkanku.Dan…sampai saat ini,aku belum bisa menghapus air mata batinku.
“Senja…Ayah sudah tenamg disini,hidup bersama bunda selamanya”Kata itu menyadarkanku,bukan hanya aku yang kehilangan Ayah tapi juga Fajar,kakakku.Kak Fajar adalah keluargaku yang masih tersisa,dia menyayangiku begitu pula aku.Aku tidak ingin kehilangannya.Aku tak ingin kehilangan Fajar,aku tak ingin menjauhkan dia dari

hidupku.Seperti apa yang aku lakukan pada Ayah dan Bunda.Bunda meninggal saat melahirkanku ke dunia ini,dan Ayah meninggal ketika mengantarku ke kampus.Air mataku terus mengalir,saat mengingat kejadian itu dengan jelas.Aku selalu berfikir,dunia ini kejam terhadap Senja bahkan tak berperasaan.
Aku bukan depresi atau gila,aku waras dan normal,hanya saja kesedihan dan rasa kehilangan yang membuatku seperti ini.

“Senja…kak Fajar berangkat ke kantor dulu”.Suara kak Fajar di luar pintu

kamarku.Ku habiskan waktuku disini,diruangan ini,di kamarku.Aku lupa sudah berapa lam aku meninggalkan kuliahku.Aku tak punya teman,aku tak punya semangat,yang kupunya hanyalah kak Fajar.
Tok…tok…tok…”Senja..ini kak Fajar,tolong buka pintu”ku langkahkan kakiku mendekati pintu dan…..”Happy birthday to you”nyanyian kak Fajar membuat air mataku menetes dan aku memeluknya erat.Malam ini di jadwalnya yang padat kak Fajar masih meluangkan waktu menyiapkan makan malam untuk merayakan ulang tahunku di taman belakang rumah.Moment ini mengingatkanku pada sosok ayah yang kental,satu tahun yang lalu.Dan itu membuatku menangis,lagi dan lagi.”Senja…ini hari special kamu,make a wish ya…”Senyum kak Fajar ramah.
Ayah dan kak Fajar selalu berkata hari ini adalah hari special untukku.Mereka sama sekali tidak menyalahkanku atas meninggalnya bunda.Sedangkan aku selalu menyalahkan diriku,tapi aku tidak bisa menghukum diriku sendiri.”kak Fajar saying Senja”kak Fajar memelukku.Begitu indah malam ini,aku tak ingin menyudahinya,tapi kak Fajar mrnyuruhku untuk beristirahat dan bersiap ke makam bunda besok pagi.”Kamu sekarang tidur ya”Kak Fajar mengecup keningku setelah merapikan tempat tidurku”Kak Fajar..mulai hari ini aku akan selalu tersenyum,aku nggak akan biarin air mata dan kesedihan yang berlarut menghantui hidup kita”.Kak Fajar membalasnya dengan tersenyum.
Aku bangun lebih awal.membuka tirai kamarku untuk mempersilakan sinarnya menerobos jendela kamarku.Udara pagi menghidupkan semangatku,dinginnya membangunkan ragaku.Aku menuju tempat meja makan dan menyiapkan sarapan untuk kak Fajar.”Walaupun aku nggak bisa masak,tapi tidak apalah roti dan selai pantaslah buat sarapan”Cengirku sendiri.Setelah semuanya selesai aku membangunkan kak Fajardan…”Kak Fajar udah lama berdiri di situ???”Tanyaku sambil tersenyum,melihat kak Fajar berdiri di tangga memperhatikanku dengan sedikit heran.”Cukup lama,Kak Fajar mau bangunin kamu,ech…ternyata orangnya udah nggak ada”jawabnya sambil tersenyum.Kami memulai hari dengan bercengkrama.It’s fun day.
Hari ini,kak Fajar mengajakku ke makam bunda”Kami datang bunda”Salam kak Fajar sambil mencium makam bunda,dan aku menabur bunga dengan segenap kasibh sayangku.Kuatnya angina pagi,menyibakkan rambutku,mengarahkan aklu pada tatapannya.Pertemuan itu nmembuat jantungku berdebar,darahku mengalir begitu cepat,dan matuku tak berkedip sedikitpun.
Tatapan itu membuatku gelisah.Aku bingung dengan apa yang aku rasa.Sulit ku artikan.Hari demi hari telah aku lalui,aku aktif kuliah lagi mengejar nilaiku,dan aku banyak menumui tatapan mata.Tapi…hanya tatapan mata itu yang aku ingin tau”Siapa gerangan pria pemiliknya?”.”Siapa?”Suara itu mengagetkanku,”Guntur,ngapain kamu disini?”Tanyaku ketus.”Aku pengen deket kamu,,ech,,kamu tadi ngomong apa??kok gak jelas sih”.”Apa-apaan sih kamu,nggak penting banget deh..”Aku berjalan menjahuinya.
Guntur adalah mahasiswa yang nggal henti-hentinya deketin aku beberapa hari ini.Kesal dengan keadaanku dan perilaku Guntur,aku terus marah-marah tanpa memperhatikan jalanku.
Brugghhh…!!!
“Sory aku tadi gak lihat”Aku kaget melihat tatapan mata itu dari dekat,aku benar-benar terpaku.
“Okey”Senyumnya…”Hey…!!!”Dia melambaikan tangan menyadarkanku
“Oh my god,sory”Aku salting.
“Awan”dia menyalurkan tangannya
“Oh…aku Senja” Kami bercengkrama hangat dan ternyata kami 1 fakultas.It’s surprised!!!
Ini adalah semangat baru,hari-hariku semakin menyenangkan.Aku sering bernyanyi,tersenyum,menari,bahkan belajar memasak.Aku menikmati hidupku,harus aku akui my life colorfull!!!
“Senja…”Suara kak Fajar mengagetkanku
“Iya”Jawabku sambil tersenyum
“Kak Fajar mau ngajak kamu diner”
“Sekarang?”
“Iya”
“Baiklah,wait a moment”sambil tersenyum lebar.Aku tak pernah merasa lelah dengan jadwal kuliah yang padat,mungkin itu semua karena Awan.Aku tersenyum tiada henti.Bahagia kini kurasa.
Kami tiba di restaurant favorit kami yang telah lama tidak kami kunjungi,selama ayah meninggal.Pelayannya masih memberi ramah senyum pada kami.
“Selamat malam mas Fajar dan mbak Senja kami turut berduka cita atas meninggalnya ayah kalian”Salam manager yang memang sudah akrab dengan kami.
“Terima kasih”Sahut kak Fajar sambil tersenyum.
“Kami masih ingat makanan favorit yang selalu anda pesanmohon tunggu sebentar”.
Kami menikmati makan malam walaupun terasa sepi tanpa ayah.Tapi kali ini aku tidak membiarkan air mataku jatuh lagi.Tiba-tiba pandanganku tersita,sekejap aku melihat dan mengenali pandangan itu.Dia mengawasi dan memperhatikanku.“Awan”
“Senja”Suara kak Fajar menyadarkanku..
“Kak kita pulang ya…aku sudah kenyang dan ngantuk”.Pintaku
“Baiklah”.
Aku bingung dan otakku terus berputar dengan pertanyaan yang sama”Kenapa Awan disana dan mengawasiku??”.
Tut…tut..tut..”Ada pesan masuk di hpku”
Aku membaca pesan tersebut dannn
”Guntur..??Ada apa ya..”
Aku kaget membaca pesan itu,ku coba mengulanginya dan menerjemahkannya.
“Aku tau kamu suka Awan,aku punya rahasia tentang dia”
“Apa maksud Guntur ya..???”Aku kaget dan bingung,aku harus telfon Guntur.
“Halo”Suara di seberang
“Guntur apa maksud kamu?”
“Aku akan cerita besok jam 6 pagi di kantin kampus”
“Tunggu…Guntur…halo…halo…,sial!!”
Dia benar-bemar nggak punya etika.Malam ini terasa berat untuk memejamkan mata,tatapan mata Awan dan kata-kata Guntur membuatku bingung.Aku benar-benar ngak ngerti.Malam berlalu begitu cepat dengan kegalauan fikiranku.Aku memulai hari di pagi yang begitu dingin.”Oke…semua sudah selesai,saatnya berangkat ke kampus”Aku berjalan ke kamar kak Fajar,dan…
“Senja…kamu mau kemana?”Tanya kak Fajar yang ada di belakangku.
“ehm…aku berangkat ke kampus dulu ya kak..”
“Tunggu Senja”
“Aku ada urusan kak,dada kak Fajar”Aku langsung berlari menuju mobilku.
Diotakku banyak pertanyaan tentang mereka berdua.
Dret…dret…dret…Hpku bergetar ada seseorang menelfon.
“Awan?”
“Senja…bisa nggak kita ketemu sekarang di taman belakang kampus?”Tanya Awan
“Iya bentar lagi aku kesana”Jawabku
“Thanks ya..”
Guntur dan Awan adalah teman 1 angkatanku yang baru aku kenal di semesteran ini,mereka berdua cukup aneh.
Aku sudah di ada di taman,berhenti sejenak duduk di kursi dekat air mancur,sambil menikmati dinginnya embun.
“Senja…”
“Awan..ada apa kamu ngajak ketemuan?”
“Ini…”Dia ngasih aku bingkisan.
“Apa ini?”
“Aku pergi dulu sampai ketemu di kelas”
“Memang cowok yang aneh”
Aku berjalan menelusuri lorong menuju kantin sambil memandangi bingkisan berbentuk persegi panjang pemberian Awan.
“Hhuuhh”Ku letakkan badanku di bangku kecil yang ada di kantin.Mataku tak henti-henti memandang sekitar menc ari sosok Guntur.
“Guntur benar-benar gila,dia nyuruh aku datang ke kantin pagi-pagi gini,mana kantin masih sepi lagi”Aku melirik jam yang ada di tanganku,menunjukkan pukul 06.30,rasa penasaranku semakin menjadi-jadi ketika memperhatikan bingkisan ini.Perlahan aku mulai membuka bungkisan itu,dan….
“Love at first sight”Ternyata dalam bingkisan itu adalah sebuah novel.
“Dooorrr”Suara itu datang tiba-tiba dan mengagetkanku.
“Guntur,kenapa sich kamu hoby banget ngagetin aku?”Kesalku
“Sory..sory..”
“Oke..sekarang kamu certain maksud kamu kemarin!!”
“Senja…aku tau kamu suka Awan,suka dengan tatapan matanya.Aku rasa sih wajar aja karena hampir semua cewek suka dengan Awan,terutama tatapannya.
“Apa maksud kamu?”
“Dia…Awan sudah punya tunangan”
Oh my god,aku ngerasa dunia runtuh nimpa aku.Cowok yang aku suka,dia sudah punya tunangan.Tapi kenapa dia ngasih aku novel dengan judul itu???Cinta pada pandangan pertama.
Hari-hariku kembali begitu buruk,aku berhasil menahan air mataku menetes lagi,tapi bodohnya aku tak kuasa membuang novel pemberian Awan.Aku berusaha menjauhi Awan,dan menghabiskan waktu dengan Guntur,walaupun sebenarnya aku tidak bisa jauh dan menghilang dari tatapan Awan.
“Senja…”Suara itu terdengar di telingaku
“Tunggu,,aku mau ngomong”Ucapnya
Aku berlari,bahkan aku takut jika apa yang aku lakukan selama ini sia-sia,aku tau dia punya orang lain.
“Senja..”Dia memegang tanganku,dan aku jatuh dalam pelukannya…so…sweet beibe,,oh my god,,aku deg degan banget.
“Lepasin aku”Bentakku
“Kenapa akhir-akhir ini kamu jauhin aku?Apa kamu udah baca novel itu?Lalu apa jawaban kamu Senja?aku butuh kamu”
“Aku kaget,mendengar kata-kata Guntur”
“Aku tau Guntur udah ngomong apa aja sama kamu “
“Senja...”Guntur memanggilku
“Itu suara Guntur,tolong kamu baca novel itu”
“Iya…”Teriakku sambil melihat kepargian Awan.
Senja ini aku ada janji sam aGuntur,dia ngajak aku ngelihat senja di tempat favorit dia.Indah banget!!!.
“Senja..”
“Iya..”
“Di tempat ini,aku mau nyatuin tangan kita.Kamu mau jadi cewk aku gak?”
Baru kali ini aku lihat wajah Guntur seserius itu,tatapannya tajam banget.
“Aku..”
“Kamu gak harus jawab sekarang,aku akan nunggu sampai kamu siap kasih jawaban ke aku”Senyumnya lekat.
Guntur nganter aku sampai kerumah.Guntur sama Awan beda banget.Ech tunggu…
“Love at first sight”Apa hubungan novel ini dengan perkataan Awan tadi?
Pertanyaan itu membuat otakku terus berputar saat aku membuka lembar demi lembar novel itu,dan…
“Surat???”
Senja…
Aku tau kamu pasti udah di kasih tau Guntur kalau aku udah punya tunangan.Guntur tau semua tentang aku karena Guntur itu sepupu aku.Guntur selalu iri sama aku,tapi kamu harus tau,tunangan aku udah meninggal,dan aku kira kamu tau.Sejak ketemu sama kamu,aku suka sama kamu.Apa kamu mau jadi cewek aku?Aku akan terima apapun keputusan kamu.
Awan..
Oh my god,mereka berdua bersaudara?dan…mereka sama-sama nembak aku?
“Senja”Kak Fajar memanggilku
“Iya”Aku enjawab sambil menyembunyikan surat dari Awan.
“Kamu kenapa”
“a…a…a..aku ngantuk mau tidur,jadi kak Fajar mending keluar aja ya..”Senyumku sambil menggiring kak Fajar keluar kamarku.
“Senja..kamu merona”senyum kak Fajar sambil menyentuh pipiku.
Aku berkaca,aku merasa sngat bahagia.Perasaan yang selama ini aku pendam,ternyata berbalas.Tapi…bagaimana dngan Guntur?apa yang harus aku katakana?.
Malam telah berganti Fajar dan matahari terbit malu-malu.
“Pagi…”Sapa kak Fajar di meja makan
“Pagi juga kak Fajar”
“Ayo cepat sarapan”Senyumnya
“Oh iya Senja nanti kita lunch ya ditempat biasa”Ajak kak Fajar.
“Iya kak Fajar,jam 12 ya..”Jawabku sambil tersenyum.
Kami berbincang akrab pagi itu,dan waktu mengharuskan kami mengentikan pembicaraan pagi itu.
Setibanya di kampus seperti biasa dan memang selalu seperti ini bnanyak lorong yang aku lewati sendiri hanya sendiri.Ku coba lohat sekeliling untuj mencari sosok Awan.
“Hei..”
“Guntur…kamu itu kebiasaan deh datang nggak di antar pulang selalu nganter”Usilku
“Heheheh…gimana?”Tanyanya
Aku dan Guntur duduk di taman kampus dan membicarakan masalah kemarin.Suasana mulai hening,kali ini tak ada yang memulai pembicaraan.Aku tak tau harus ngomong apa Sama Guntur,mulutku kaku,dan….
“Aku nggak bisa Guntur,aku…”
“Kamu suka Awan,iya kan?”Potongnya
“Aku…”
Aku tau Guntur nggak terima keputusanku,dia lari pergi menjauh dariku,dan aku tak bisa berbuat apa-apa.
Kali ini aku sendirian karena aku telah menyuruh Guntur pergi.Hari ini selama kuliah aku tak melihat Awan sama sekali,sosoknya begitu langka entah mengapa aku terus mencarinya.
Aku memutuskan meninggalkan kampus dan memenuhi ajakn kak Fajar.Sepanjang perjalanan otakku tersita pada sosok Awan,hanya dia tamu fikiranku.Aku sudah sampai di restorant favoritku dan kak Fajar.Aku memasuki restaurant dan mencari kak Fajar,tapi aku kaget.
“Senja….”Sapanya
Kak Fajar nggak sendiri dan…
“Awan”sejenak aku berfikir
Karena aku begitu mengenal tatapan pria itu,dia berdiri dan menyambutku dengan senyum ramahnya.
“Silakan”dia menyiapkan kursi untukku.
Aku malu melihat kak Fajar tersenyum dan mengisyaratkan kalu pipiku merona.Aku tak menyangka kalau mereka berdua saling mengenal dan cukup akrab.Aku tak bisa berkata apapun karena aku tau pipiku yang merona telah mengisyaratkan padanya.Kak Fajar hanya tersenyum melihatku dan…
“Aku mau…!!!”
Mereka mentertawakanku dan Awan memelukku bahagia.

(by: Megawati)
READ MORE - Senja Merona
Welcome to Media SMAGA blog ^^